Entri yang Diunggulkan

Iing Suwarli, anak Bungsu dari pasangan Achnari dan Empok

Achnari dan Empok leluhur kita ini mempunyai 6 orang anak, 3 laki-laki dan 3 perempuan. Adapun nama dan urutannya adalah sebagai b...

Jumat, 23 September 2016

Catatan Penting dalam penanggalan Hijriyah







Ny. Surtika lahir 3 September 1962, bertepatan dengan 3 Rabi'ul Akhir 1382H, Rabu, Wage 

Meninggal dunia pada tanggal 16 November 1994, 12 Jumadil Akhir 1415H, Rabu, Wage

Emak Sa'adah wafat 15 Desember 2013, 11 Syafar 1435H, Minggu, Pon; 


Sebagai anak Pertama saya lahir 6 Oktober 1953, 
27 Muharram 1373H, Selasa, Pon; 


Kata Ema, saya lahir di RS dekat Gereja Ayam Pasar Baru (sekarang jadi Puskesmas), sekarang nama jalannya Jalan Samanhudi, dulu dikenal sebagai Jalan Pintu Besi. Pada waktu itu Ema dan Bapa menempati rumah sewa di bilangan Kepu Dalam Gang III.









Memed Supriyadi, 2 Juli 1955, 
12 Dzulkaidah 1374H, Sabtu, Pahing; 


Tidak banyak catatan masa kecil yang masih saya ingat tentang saudara yang satu ini; yang masih terbayang adalah ketika ia menangis meronta di gendongan uwa Kiyoh, Emak juga menangis. TKP tepi jalan depan rumah H. Bahrudin, ketika itu rumah Ene Enoch berada di dekat Masjid milik H. Bahrudin, rumah dengan pagar hidup tanaman perdu yang sering digunakan untuk pewarna kuku, di kampung kami disebut pohon Pacar.

Saya, Ema dan Bapa kembali ke Jakarta, meninggalkan adik ini bersama uwa Kiyoh sampai menyelesaikan SMP-nya di Panjalu, kampung halaman Uwa Makmun, suami uwa Kiyoh.



Ateng, 4 Juli 1957, 
6 Dzulhijah 1376H, Kamis, Kliwon; 


Lahir di Gg. Kran, daerah Kemayoran. Kalau malam hari, kami berempat, Bapa, Ema, Ateng dan saya suka diajak jalan-jalan naik beca kemudian minum es Shanghai di Jl. Garuda, kenikmatan luar-biasa jaman itu.

Kalau hari libur, kami bertiga (tanpa Ema) berboncengan naik sepeda, saya dibonceng di belakang, sementara Ateng didudukan di atas kursi rotan (customized)  keliling Jalan Garuda, Jalan Angkasa yang tentu saja belum seramai sekarang.


Tatang Hendra, 13 Mei 1959, 
5 Dzulkaidah 1378H, Rabu, Pon; 


Waktu Tatang mau dilahirkan, Bapa dalam keadaan sakit keras, fasilitas kesehatan jaman itu belum sebaik sekarang; hanya karena "nasib-baik" dan pertolongan Tuhan tentunya, Bapa bisa sembuh tanpa harus dirawat di Rumah Sakit.


Rumah kami waktu itu di Jl. Gunung Sahari VII Dalam, menyewa rumah petak Abah Sarim, yang kemudian jadi "ayah-angkat" Emak


Ny. Surtika, 3 September 1962, bertepatan dengan 3 Rabi'ul Akhir 1382H, Rabu, Wage; 


Seingat saya Surtika lahir, waktu rumah sudah pindah ke daerah Kalimati Pademangan; Bapa mengurug sebidang rawa yang sekelilingnya dibatasi dengan kotak bakelit bekas accu. Lokasi kavling Bapa berada di daerah pembuangan limbah pabrik korek api Java-Match. Rawa diurug dengan limbah berupa lembar-lembar kayu tipis. Karena diurug dengan limbah kayu yang relatip ringan, kalau kita berjalan di atasnya, serasa "mengambang" ; saya sering membayangkan seakan sedang berjalan di atas awan.


Jajang Suandhy, 13 Januari 1965, 
10 Ramadhan 1384H, Rabu, Kliwon; 


Dilahirkan ketika kami "back to kampong" karena situasi ekonomi orang-tua kami memburuk. Bapak melepas semua 'asset" di Jakarta kemudian membuat rumah di Pereng (dari jalan-cagak, ke kanan, arah ke Empang). Rumah panggung kayu yang suka berderit-derit di waktu malam hari. 

Belakangan saya faham bahwa bunyi deritan timbul sebagai akibat proses muai-susut kayu, mengingat kayu yang digunakan adalah kayu basah, bukan kayu yang sudah dikeringkan atau di-oven.

Saya sudah kelas 4 atau 5 waktu Jajang dilahirkan, Bapa di Jakarta; saya yang jemput Ema Paraji dari (saya masih coba mengingat nama daerahnya); yang jelas saya menjemputnya dengan berjalan kaki, lewat pematang sawah menuju bukit yang jarak-nya kurang lebih 2 km.


Karena Bapa di Jakarta, saya yang memberi nama-depan, seperti nama pemain Persib kesohor pada jaman itu, dan Ema yang melengkapi nama belakang-nya.


Titik Djuwita, 7 Oktober 1967, 3 Rajab 1387H, Sabtu, Pahing; 

Lahir prematur, dengan bantuan Ema Paraji yang sama, dijemput dari lokasi yang sama juga.

Hebatnya Ema Paraji jaman itu, yang belum sempat mengikuti Kursus Persalinan yang diselenggarakan oleh Ikatan Bidan Indonesia, beliau bisa menolong persalinan tanpa kendala yang berarti. Pesan beliau, bahwa bayi ini harus "didampingi" oleh 2 botol bekas botol kecap berisi air-panas yang dibungkus kain di kiri dan kanannya. Belakangan saya mengerti bahwa 2 botol tadi berfungsi sebagai ganti "incubator"


Nanien Mulyani, 26 Juni 1969, 
10 Rabi'ul Akhir 1389H, Kamis, Kliwon; 


Dedi Mulyadi, 25 Desember 1972, 
19 Dzulkaidah 1392H, Senin, Pon. 

Sejatinya masih ada 2 (dua) saudara laki-laki yang lahir sebelum dan sesudah Dedi Mulyadi yang diklaim sebagai Anak-Bungsu; tapi keduanya meninggal ketika dilahirkan.


illustrasi foto-foto di atas diambil pada tanggal 28 Juli 2014;

30 Ramadhan 1435H, hari Senin, Pon

Tidak ada komentar:

Posting Komentar